Presiden Resmikan Siaran Perdana TV Digital
=Pro. Blogger Kutoarjo Purworejo =
Dalam acara perayaan Hari Kebangkitan Nasional yang diselenggarakan Depkominfo dan SCTV, Kamis siang (20/05), di lantai 8 Hall Senayan City Jakarta, Presiden SBY meresmikan siaran TV digital dari Konsorsium TV Digital Indonesia (KTDI) free-to-air yang beranggotakan 6 siaran TV swasta nasional yakni SCTV, Metro TV, Trans TV, Trans7, ANTV, TV One dan Konsorsium LPP TVRI – Telkom, serta Konsorsium Tren Mobile TV dan Konsorsium Telkom-Telkomsel-Indonusa.
Turut hadir ibu Ani Susilo Bambang Yudhojono, para menteri Kabinet Bersatu, Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah, Dir Konsumer Telkom I Nyoman G Wiryanata, Dir EWS Arief Yahya, Dirut TelkomVison Rahadi, Dirut KTDI Ishadi S.K., serta para undangan.
Pelaksanaan ujicoba siaran TV digital ini adalah hasi dari Keputusan Menkominfo No. 70/KEP/M.KOMINFO/02/2009 tentang izin Uji Coba Lapangan Penyelenggara Siaran TV Digital untuk Penerimaan Tetap Free to Air, dengan tujuan untuk mengkaji aspek teknisi dan non teknis dalam penyelenggaraan siaran TV digital persiapan migrasi penyiaran analog ke digital.
Menurut Direktur KTDI, Supeno Lembang, bahwa dalam masa uji coba ini, masyarakat yang bisa menikmati siaran digital adalah pemirsa yang telah memperoleh set top box, sebuah perangkat penerima yang telah dilengkapi DVB-T turner untuk dapat menerima siaran digital, dimana alat ini dapat dibeli di toko-toko elektronik terdekat.
TV beralih dari CRT/Tube ke Plasma dan LCD. Diperkirakan sampai tahun 2014, penyiaran analog tidak akan beroperasi lagi. Akan tetapi, pemirsa tidak perlu mengganti pesawat TV analog yang pemirsa punya, pemirsa hanya perlu menambahkan Digital Set Top Box untuk dapat menerima siaran digital, jelasnya.
Supeno Lembang menambahkan, keuntungan dari TV Digital adalah gambar yang lebih baik dengan kualitas DVD, Suara yang lebih baik dengan kualitas CD Stereo-Surround Sound (Dolby Digital TM.), Konten-konten lainnya seperti EPG (Electronic Programming Guide) atau jadwal acara yang langsung dapat dipilih di pesawat TV yaitu timer, recorder, games dan informasi lainnya.
Wujud konkret lain yang ditengahkan dalam peringatan hari Kebangkitan ini adalah Presiden melakukan video conference Telkomsel melalui program Merah Putih dengan beberapa tokoh masyarakat di 4 lokasi terpencil, yaitu di Desa Ubrub, Kecamatan Web, Kabupaten Kerom, Provinsi Papua ; Desa Adaut, Kecamatan Saumlaki, Kabupaten Maluku Tenggara, Propinsi Maluku ; Desa Sekatak Puji Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Propinsi Kalimantan Timur, dan Desa Ranupati, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumanjang. Perlu diketahui, Telkomsel yang sudah ditetapkan sebagai pemenang lelang USO (Universal Service Obligation/akses telepon pedesaan) dan sudah menandatangani kontraknya untuk beberapa wilayah Indonesia (terkecuali Sulawesi, Maluku dan Papua yang masih ditender ulang saat ini) dengan kapasitas Telkomsel dalam melanjutkan program Merah Putih.***LW
Tampilkan postingan dengan label tv dig. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tv dig. Tampilkan semua postingan
Jumat, 22 Mei 2009
Rabu, 22 Oktober 2008
Menyongsong Era -TV-DIGITAL
________________________________________
Date: Tuesday, October 21, 2008 04:11PM
Subject: Menyongsong Era TV Digital
Dapat info dari web tetangga ( http://www.beritaiptek.com/zberita-beritaiptek-2006-01-11-Menyongsong-Era-TV-Digital.shtml ), siap2 tv analog bakalan jadi barang rongsokan...
Rabu, 11 Januari 2006 09:54:47
Artikel Iptek - Bidang Teknologi Informasi dan Telekomunikasi
Menyongsong Era TV Digital
Oleh Khoirul Anwar
Jangan heran jika suatu saat TV kesayangan yang biasa kita gunakan saat ini tiba-tiba tidak bisa menerima sinyal dan yang muncul hanyalah layar bersemut. Itulah saat dimana kita harus mengucapkan selamat tinggal pada TV analog, karena sudah tidak bisa lagi mengolah sinyal digital yang dipancarkan ( broadcast ) dan sudah saatnya harus diganti dengan TV digital yang kualitasnya memang jauh lebih baik. Momen dimulainya TV Digital ini menjadi momen terpenting yang menandakan bahwa mulai saat ini data digital akan menjadi "barang gratis" di udara, bukan lagi barang hanya bisa dinikmati via TV cable atau satelit yang harganya tentu tidak murah.
Seluruh dunia saat ini sedang memulai percobaan untuk mematikan TV Analog. Hal ini kira-kira mungkin akan berlangsung sampai 5 tahunan ke depan. Di Jerman, proyek ini telah dimulai sejak tahun 2003 lalu untuk kota Berlin dan 2005 untuk Munich. Sedangkan negara-negara lainnya baru berencana mulai tahun 2010. Di Amerika, Kongres menetapkan tahun 2009 sebagai hari selamat tinggal bagi TV Analog Amerika. Tahun 2010, Perancis juga akan menerapkan hal yang sama. Di Inggris, akhir tahun 2005 kemarin dilakukan percobaan untuk mematikan beberapa siaran analog. Hal ini untuk memastikan bahwa pematian total sistem analog bisa dilakukan pada tahun 2012 (sehingga tidak shock).
Jepang sebagai salah satu negara elektronik maju dunia, merencanakan era TV Digital Jepang pada tahun 2011, walaupun tahun ini pun sudah dilakukan siaran percobaan TV Digital oleh beberapa stasiun TV di Tokyo, Nagoya, dan Osaka. Kepada yang bermukim di Jepang, silakan lihat dan bedakan TV Digital di stasiun-stasiun besar. Bagi produsen alat-alat elektronik, kabar ini bisa merupakan "angin segar" untuk kelangsungan bisnis lima tahunan mendatang, sedangkan kepada konsumen di Jepang, siap-siap saja menyisihkan sedikit uang belanja menjelang 2011 untuk membeli tambahan receiver digital yang baru.
Mengapa TV Digital ?
TV Digital di sini bukan berarti pesawat TV-nya yang Digital, melainkan lebih kepada sinyal yang dikirimkan adalah signal digital atau mungkin yang lebih tepat adalah siaran digital ( Digital Broadcasting) . Kelebihan signal digital dibanding analog adalah ketahanannya terhadap noise dan kemudahannya untuk diperbaiki ( recovery ) di penerima dengan kode koreksi error ( error correction code ).
Akhir-akhir ini, performance TV digital untuk penerimaan pada mobile terminal (misal telepon genggam, mobil, bus, kereta listik dan lain-lain yang bergerak) bisa ditanggulangi dan ditingkatkan performansinya dengan menggunakan prinsip space diversity (beberapa peneliti Jepang menambahkan antenna diversity bersamaan dengan space diversity sehingga diperoleh diversity 2x lipat) untuk mengurangi efek Doppler karena pergerakan. Di laboratoritum penulis sendiri, antena dengan jumlah 4 ternyata mampu menaikkan performance (dengan mengurangi kesalahan bit) dari bit-error-rate (BER) 1/10 (1E-1) menjadi 1/1000 (1E-3) untuk kecepatan pergerakan sebesar 100 km/jam. Ini adalah sebuah perbaikan yang cukup menakjubkan hanya dengan menaruh antena dan sedikit algoritma pengolahan sinyal.
Gambar 1. Kualitas TV Digital dan Analog saat bergerak
Keuntungan transmisi digital lainnya adalah less bandwidth (atau high efficiency bandwidth ) karena interference digital channel lebih rendah, sehingga beberapa channel bisa dikemas atau "dipadatkan" dan dihemat. Hal ini menjadi sangat mungkin karena broadcasting TV Digital menggunakan sistem OFDM (O rthogonal Frequency Division Multiplexing ) yang tangguh dalam mengatasi efek lintas jamak ( multipath fading ). Kemudian keuntungan lainnya adalah bahwa sinyal digital bisa dioperasikan dengan daya yang rendah ( less power ). Itulah beberapa hal yang sangat mengutungkan dalam TV digital.
Keuntungan di atas menghasilkan kualitas gambar dan warna yang sangat jauh lebih bagus daripada TV analog. Bahkan kalau boleh diungkapkan "pori-pori kulit seorang presenter pun menjadi terlihat sangat jelas di depan pesawat TV Anda" karena sangat bersihnya dan jelasnya gambar yang diterima.
Gambar 2. Eksperimen TV Digital dalam bus di Jepang. (Sumber foto DiBEG.org)
Konsekuensi Era TV Digital
Sedikit ketidaknyamanan yang mau tidak mau harus diterima dengan peralihan ke TV digital ini adalah perlunya pesawat TV baru atau paling tidak kita perlu membeli TV Tuner baru yang harganya bisa berkisar 10.000 yen (sekitar 1 juta rupiah). Namun penulis menilai bahwa harga ini bukan harga mati yang tidak bisa ditekan alias bukan masalah yang besar dalam menyongsong datangnya TV digital beberapa tahun lagi (meski harga pada tahun 2006 ini, Tuner TV Digital di pasaran Jepang masih sekitar 25.000 - 50.000 yen).
Kemudian sedikit yang membedakan TV Analog dan Digital adalah sistem pemrosesan sinyalnya. Pada sistem digital, karena diperlukan tambahan proses misalnya Fast Fourier Transform (FFT), Viterbi decoding dan equalization di penerima, maka TV Digital ini akan sedikit terlambat beberapa detik dibandingkan TV Analog seperti pada Gambar 2. Ketika TV analog sudah menampilkan gambar baru, maka TV Digital masih beberapa detik menampilkan gambar sebelumnya. Namun penulis menilai ini bukan halangan besar bagi diimplementasikannya TV Digital.
Sistem Pemancar TV Digital
Di seluruh dunia ada 3 standar TV Digital yaitu DTV ( Digital Television , standar di USA), DVB-T ( Digital Video Broadcasting Terrestrial , standar di Eropa) dan ISDB-T ( Integrated Services Digital Broadcasting Terrestrial , standar di Jepang). Semua standar di atas berbasiskan OFDM dengan error correcting code reed Solomon dan/atau convolutional coding dan audio coding nya adalah MPEG-2 Audio AAC untuk ISDB-T dan DTV dan MPEG-1 layer2 untuk DVB-T.
Lagi-lagi Jepang membuat standar sendiri dalam hal TV Digital ini, sama seperti yang mereka lakukan pada September 2005 lalu di Jerman (saat itu Jepang diberi kesempatan untuk mempresentasikannya setelah USA dan Eropa, IEEE PIMRC2005), bahwa Jepang juga ingin membuat standar sendiri untuk sistem komunikasi terbaru yaitu UWB ( Ultra Wide Band ) dengan pusat Riset saat ini di Yokohama.
Dibandingkan dengan DTV dan DVB-T, ISDB-Tnya Jepang dikabarkan sangat fleksibel dan banyak punya kelebihan terutama pada untuk penerima yang bergerak ( mobile reception ) atau boleh kita katakan bahwa ISDB-T lebih tahan terhadap efek Doppler . ISDB-T yang merupakan satu dari dua saudaranya yaitu ISDB-S (untuk transmisi lewat kabel) dan ISDB-S (untuk satelit), juga bisa diaplikasikan pada sistem dengan bandwidth 6,7MHz dan 8MHz.
Fleksibilitas ISDB-T bisa kita lihat juga dari mode yang dipakai yaitu mode 1 untuk aplikasi mobile SDTV, mode 2 untuk aplikasi penerima yang mobile dan fixed HDTV/SDTV dan Mode 3 untuk yang khusus penerima fixed HDTV/SDTV. Semua data modulasi fleksible untuk QPSK dan 16QAM atau 64QAM. Kemudian perubahan mode ini bisa diatur melalui apa yang disebut TMCC ( Transmission and Multiplexing Configuration Control ).
Kapan TV Digital di Indonesia ?
Dari laporan grup peneliti Digital Broadcasting Jepang (DiBEG) dan Monbukagakusho, bahwa di Indonesia mereka juga telah mempresentasikan sistem digital ini sekitar bulan Februari 2004 lalu, namun nampaknya perhatian Indonesia belum jauh ke sana. Saat ini TV digital di Indonesia baru bisa dinikmati melalui satelit. Jadi gambar kualitas tinggi yang jernih sepertinya masih langka untuk bisa dinikmati masyarakat bawah dalam waktu dekat ini.
Khoirul Anwar, Peneliti pada ISTECS-Japan bidang kajian IT dan E-Government, Kandidat Doktor pada Laboratorium Telekomunikasi, Nara Institute of Science and Technology (NAIST), Japan. E-mail: anwar-k [at] is.naist.jp
Haposan Ringo
___________________________________________________
TELKOM DIVRE II Jakarta - UBC
Jl. Gatoto Subroto Kav 52 Jakarta - INDONESIA
Tlp 62 21 5215XXX Fax 62 21 5228474
http:// www.telkom.co.id/layanan-pelanggan/
Email : haposanr@telkom.co.id
_______________________________________________
Date: Tuesday, October 21, 2008 04:11PM
Subject: Menyongsong Era TV Digital
Dapat info dari web tetangga ( http://www.beritaiptek.com/zberita-beritaiptek-2006-01-11-Menyongsong-Era-TV-Digital.shtml ), siap2 tv analog bakalan jadi barang rongsokan...
Rabu, 11 Januari 2006 09:54:47
Artikel Iptek - Bidang Teknologi Informasi dan Telekomunikasi
Menyongsong Era TV Digital
Oleh Khoirul Anwar
Jangan heran jika suatu saat TV kesayangan yang biasa kita gunakan saat ini tiba-tiba tidak bisa menerima sinyal dan yang muncul hanyalah layar bersemut. Itulah saat dimana kita harus mengucapkan selamat tinggal pada TV analog, karena sudah tidak bisa lagi mengolah sinyal digital yang dipancarkan ( broadcast ) dan sudah saatnya harus diganti dengan TV digital yang kualitasnya memang jauh lebih baik. Momen dimulainya TV Digital ini menjadi momen terpenting yang menandakan bahwa mulai saat ini data digital akan menjadi "barang gratis" di udara, bukan lagi barang hanya bisa dinikmati via TV cable atau satelit yang harganya tentu tidak murah.
Seluruh dunia saat ini sedang memulai percobaan untuk mematikan TV Analog. Hal ini kira-kira mungkin akan berlangsung sampai 5 tahunan ke depan. Di Jerman, proyek ini telah dimulai sejak tahun 2003 lalu untuk kota Berlin dan 2005 untuk Munich. Sedangkan negara-negara lainnya baru berencana mulai tahun 2010. Di Amerika, Kongres menetapkan tahun 2009 sebagai hari selamat tinggal bagi TV Analog Amerika. Tahun 2010, Perancis juga akan menerapkan hal yang sama. Di Inggris, akhir tahun 2005 kemarin dilakukan percobaan untuk mematikan beberapa siaran analog. Hal ini untuk memastikan bahwa pematian total sistem analog bisa dilakukan pada tahun 2012 (sehingga tidak shock).
Jepang sebagai salah satu negara elektronik maju dunia, merencanakan era TV Digital Jepang pada tahun 2011, walaupun tahun ini pun sudah dilakukan siaran percobaan TV Digital oleh beberapa stasiun TV di Tokyo, Nagoya, dan Osaka. Kepada yang bermukim di Jepang, silakan lihat dan bedakan TV Digital di stasiun-stasiun besar. Bagi produsen alat-alat elektronik, kabar ini bisa merupakan "angin segar" untuk kelangsungan bisnis lima tahunan mendatang, sedangkan kepada konsumen di Jepang, siap-siap saja menyisihkan sedikit uang belanja menjelang 2011 untuk membeli tambahan receiver digital yang baru.
Mengapa TV Digital ?
TV Digital di sini bukan berarti pesawat TV-nya yang Digital, melainkan lebih kepada sinyal yang dikirimkan adalah signal digital atau mungkin yang lebih tepat adalah siaran digital ( Digital Broadcasting) . Kelebihan signal digital dibanding analog adalah ketahanannya terhadap noise dan kemudahannya untuk diperbaiki ( recovery ) di penerima dengan kode koreksi error ( error correction code ).
Akhir-akhir ini, performance TV digital untuk penerimaan pada mobile terminal (misal telepon genggam, mobil, bus, kereta listik dan lain-lain yang bergerak) bisa ditanggulangi dan ditingkatkan performansinya dengan menggunakan prinsip space diversity (beberapa peneliti Jepang menambahkan antenna diversity bersamaan dengan space diversity sehingga diperoleh diversity 2x lipat) untuk mengurangi efek Doppler karena pergerakan. Di laboratoritum penulis sendiri, antena dengan jumlah 4 ternyata mampu menaikkan performance (dengan mengurangi kesalahan bit) dari bit-error-rate (BER) 1/10 (1E-1) menjadi 1/1000 (1E-3) untuk kecepatan pergerakan sebesar 100 km/jam. Ini adalah sebuah perbaikan yang cukup menakjubkan hanya dengan menaruh antena dan sedikit algoritma pengolahan sinyal.
Gambar 1. Kualitas TV Digital dan Analog saat bergerak
Keuntungan transmisi digital lainnya adalah less bandwidth (atau high efficiency bandwidth ) karena interference digital channel lebih rendah, sehingga beberapa channel bisa dikemas atau "dipadatkan" dan dihemat. Hal ini menjadi sangat mungkin karena broadcasting TV Digital menggunakan sistem OFDM (O rthogonal Frequency Division Multiplexing ) yang tangguh dalam mengatasi efek lintas jamak ( multipath fading ). Kemudian keuntungan lainnya adalah bahwa sinyal digital bisa dioperasikan dengan daya yang rendah ( less power ). Itulah beberapa hal yang sangat mengutungkan dalam TV digital.
Keuntungan di atas menghasilkan kualitas gambar dan warna yang sangat jauh lebih bagus daripada TV analog. Bahkan kalau boleh diungkapkan "pori-pori kulit seorang presenter pun menjadi terlihat sangat jelas di depan pesawat TV Anda" karena sangat bersihnya dan jelasnya gambar yang diterima.
Gambar 2. Eksperimen TV Digital dalam bus di Jepang. (Sumber foto DiBEG.org)
Konsekuensi Era TV Digital
Sedikit ketidaknyamanan yang mau tidak mau harus diterima dengan peralihan ke TV digital ini adalah perlunya pesawat TV baru atau paling tidak kita perlu membeli TV Tuner baru yang harganya bisa berkisar 10.000 yen (sekitar 1 juta rupiah). Namun penulis menilai bahwa harga ini bukan harga mati yang tidak bisa ditekan alias bukan masalah yang besar dalam menyongsong datangnya TV digital beberapa tahun lagi (meski harga pada tahun 2006 ini, Tuner TV Digital di pasaran Jepang masih sekitar 25.000 - 50.000 yen).
Kemudian sedikit yang membedakan TV Analog dan Digital adalah sistem pemrosesan sinyalnya. Pada sistem digital, karena diperlukan tambahan proses misalnya Fast Fourier Transform (FFT), Viterbi decoding dan equalization di penerima, maka TV Digital ini akan sedikit terlambat beberapa detik dibandingkan TV Analog seperti pada Gambar 2. Ketika TV analog sudah menampilkan gambar baru, maka TV Digital masih beberapa detik menampilkan gambar sebelumnya. Namun penulis menilai ini bukan halangan besar bagi diimplementasikannya TV Digital.
Sistem Pemancar TV Digital
Di seluruh dunia ada 3 standar TV Digital yaitu DTV ( Digital Television , standar di USA), DVB-T ( Digital Video Broadcasting Terrestrial , standar di Eropa) dan ISDB-T ( Integrated Services Digital Broadcasting Terrestrial , standar di Jepang). Semua standar di atas berbasiskan OFDM dengan error correcting code reed Solomon dan/atau convolutional coding dan audio coding nya adalah MPEG-2 Audio AAC untuk ISDB-T dan DTV dan MPEG-1 layer2 untuk DVB-T.
Lagi-lagi Jepang membuat standar sendiri dalam hal TV Digital ini, sama seperti yang mereka lakukan pada September 2005 lalu di Jerman (saat itu Jepang diberi kesempatan untuk mempresentasikannya setelah USA dan Eropa, IEEE PIMRC2005), bahwa Jepang juga ingin membuat standar sendiri untuk sistem komunikasi terbaru yaitu UWB ( Ultra Wide Band ) dengan pusat Riset saat ini di Yokohama.
Dibandingkan dengan DTV dan DVB-T, ISDB-Tnya Jepang dikabarkan sangat fleksibel dan banyak punya kelebihan terutama pada untuk penerima yang bergerak ( mobile reception ) atau boleh kita katakan bahwa ISDB-T lebih tahan terhadap efek Doppler . ISDB-T yang merupakan satu dari dua saudaranya yaitu ISDB-S (untuk transmisi lewat kabel) dan ISDB-S (untuk satelit), juga bisa diaplikasikan pada sistem dengan bandwidth 6,7MHz dan 8MHz.
Fleksibilitas ISDB-T bisa kita lihat juga dari mode yang dipakai yaitu mode 1 untuk aplikasi mobile SDTV, mode 2 untuk aplikasi penerima yang mobile dan fixed HDTV/SDTV dan Mode 3 untuk yang khusus penerima fixed HDTV/SDTV. Semua data modulasi fleksible untuk QPSK dan 16QAM atau 64QAM. Kemudian perubahan mode ini bisa diatur melalui apa yang disebut TMCC ( Transmission and Multiplexing Configuration Control ).
Kapan TV Digital di Indonesia ?
Dari laporan grup peneliti Digital Broadcasting Jepang (DiBEG) dan Monbukagakusho, bahwa di Indonesia mereka juga telah mempresentasikan sistem digital ini sekitar bulan Februari 2004 lalu, namun nampaknya perhatian Indonesia belum jauh ke sana. Saat ini TV digital di Indonesia baru bisa dinikmati melalui satelit. Jadi gambar kualitas tinggi yang jernih sepertinya masih langka untuk bisa dinikmati masyarakat bawah dalam waktu dekat ini.
Khoirul Anwar, Peneliti pada ISTECS-Japan bidang kajian IT dan E-Government, Kandidat Doktor pada Laboratorium Telekomunikasi, Nara Institute of Science and Technology (NAIST), Japan. E-mail: anwar-k [at] is.naist.jp
Haposan Ringo
___________________________________________________
TELKOM DIVRE II Jakarta - UBC
Jl. Gatoto Subroto Kav 52 Jakarta - INDONESIA
Tlp 62 21 5215XXX Fax 62 21 5228474
http:// www.telkom.co.id/layanan-pelanggan/
Email : haposanr@telkom.co.id
_______________________________________________
Langganan:
Postingan (Atom)
